Denpasar 15 April 2026— Dewan Pimpinan Wilayah National Corruption Watch (NCW) Provinsi Bali melontarkan kritik keras terhadap beredarnya konten viral di media sosial TikTok yang mengangkat figur Paus Leo XIV dalam narasi yang dikaitkan dengan kekuatan politik dan dinamika kekuasaan.
Ketua DPW NCW Bali, Donnox Wong, menilai konten semacam ini bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan berpotensi kuat sebagai bentuk penggiringan opini publik yang sistematis dan menyesatkan.
“Ini bukan lagi soal konten biasa. Ini adalah bentuk framing yang berbahaya, ketika figur moral dijadikan alat untuk membangun legitimasi atau persepsi tertentu di ruang publik,” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan simbol agama dalam konteks politik merupakan praktik
yang patut dicurigai karena berpotensi merusak tatanan nilai serta menciptakan bias berpikir di tengah masyarakat.
“Agama adalah wilayah sakral. Ketika ditarik ke pusaran kepentingan kekuasaan, maka yang terjadi adalah manipulasi kesadaran publik. Ini tidak bisa dibiarkan,” lanjutnya dengan nada
tegas.
DPW NCW Bali juga menyoroti pola konten viral yang kerap membungkus pesan dengan visual dan narasi yang seolah edukatif, namun sesungguhnya menyimpan agenda tersembunyi dalam membentuk opini massa.
“Model seperti ini sangat halus tapi mematikan. Publik digiring tanpa sa
dar. Ini yang kami sebut sebagai pembentukan opini yang tidak sehat dan berpotensi merusak cara berpikir masyarakat,” ungkapnya.
Lebih jauh, NCW Bali mengingatkan bahwa fenomena ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, termasuk pemerintah dan aparat terkait, untuk memastikan ruang digital tidak dijadikan sarana propaganda terselubung.
“Kami tegaskan, siapa pun yang mencoba memainkan narasi publik dengan cara-cara manipulatif harus siap berhadapan dengan kontrol sosial. Negara tidak boleh kalah oleh
permainan opini,” tegasnya lagi.
DPW NCW Bali memastikan akan terus mengawasi dan mengkritisi setiap bentuk penyalahgunaan ruang publik digital, serta mengajak masyarakat untuk tidak menjadi korban dari narasi yang dibangun secara sepihak.
“Jangan telan mentah-mentah. Publik harus melawan dengan kesadaran. Karena hari ini, yang dipertaruhkan bukan hanya informasi, tapi cara berpikir bangsa,” tutupnya.(dpw ncw Bali team)



